Point 100

----

Di tahap itulah akhirnya dia nyeletuk: "kerja saya tidak seberat kerja Anda. Lebih santai," katanyi. Yakni kerja buka toko online di SPS Commerce.

Menurut Yusuf tidak ada nada dia mengajak dirinya terjun ke bisnis itu. Justru Yusuf yang banyak bertanya: apa dan bagaimana bisnis itu.

Intinya: Yusuf bisa buka toko di SPS Commerce. Tinggal menawarkan jual apa. Yusuf pun konsultasi dengan si dia: baiknya jualan apa.

Si dia menjawab: pengaruh Covid-19 masih terasa. Baiknya bisnis yang ada hubungannya dengan sanitasi dan kebugaran: masker, cairan sanitasi, tisu, vitamin, dan sebangsanya.

Yusuf pun menuruti saran itu: ia menawarkan 50 item di toko onlinenya.

"Toko baru biasanya di-support oleh sistem di SPS Commerce. Dicarikan pembeli," ujar si dia.

Tidak lama kemudian ada pesanan masuk. Dari Jerman. Nilainya USD1000. Yusuf ambil itu pesanan. Tapi ia harus menempatkan deposito di SPS Commerce senilai USD1000. Barulah transaksi bisa terjadi. Setelah barang dikirim, kata petugas CS di situ, uang pembelian akan cair 15 hari kemudian.

Untuk itu Yusuf punya e-wallet --dompet elektronik di akunnya. Yakni untuk menerima uang dari pemesan barang. Betul saja tiga hari kemudian masuk ke e-wallet Yusuf uang USD1000. Tidak sampai 15 hari.

Yusuf cukup hati-hati. Ia coba cairkan sebagian uang di e-wallet-nya itu: USD100. Ia hubungi CS untuk mencairkannya. SC pun minta nomor rekening bank milik Yusuf. Uang USD100 pun cair.

Yusuf lega: ini akun bisa dipercaya.

Lalu masuk pesanan-pesanan lain. Nilainya USD2.000. Yusuf layani. Sampai akhirnya masuk pesanan senilai USD5.000. Kali ini Yusuf merasa tidak punya modal sebesar itu. Ia harus beli dari pemasok dengan sistem kontan.

Tapi Yusuf tidak bisa menolak pesanan itu. Tidak boleh. Ia akan kena penalti. Saran dari CS: minta agar nilai pesanannya diturunkan. Yusuf bisa kontak langsung dengan pemesan. Lewat email. Sistem memang membolehlan kontak langsung seperti itu. Pesanan pun berhasil diturunkan.

Ketika datang pesanan baru Yusuf panik: nilainya USD7.000. Pemesannya Ratna Dewi, orang Jakarta. Yusuf tidak mampu tapi tidak bisa menolak. Ia mencoba menghubungi Ratna Dewi. Tidak direspons. CS juga sudah membantu menghubungi pemesan. Juga tidak ada respons.

Ketika saat pesanan jatuh tempo akhirnya Yusuf dianggap wanprestasi. Melanggar aturan. Dapat peringatan keras. Kejadian seperti itu berulang. Yusuf tidak mampu memenuhi pesanan. Juga tidak bisa kontak pemesan --untuk minta penurunan nilai order.

Akhirnya toko Yusuf ditutup. Ia sendiri sudah agak lama ingin menutup tokonya. Toh kelak bisa buka lagi, kapan saja.

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan