Singapura Tiba-tiba Warning Perang Dunia 3, Waspada RI Bisa Kena
Pertemuan Presiden Indonesia Prabowo Subianto dan Perdana Menteri Singapura Lawrence Wong di Istana Merdeka, Jakarta beberapa waktu lalu.--TANGKAPAN LAYAR
Radarkoran.com - Perdana Menteri Singapura Lawrence Wong memperingatkan bahwa meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan China dapat mengakibatkan konsekuensi yang menghancurkan di seluruh dunia.
"Jika Amerika Serikat memutuskan hubungan dengan China, hal itu akan sangat merugikan bagi perekonomian AS dan warga negara Amerika," kata Wong kepada para pelajar dalam sebuah dialog pada awal pekan ini.
Wong mengatakan bahwa terpecah menjadi dua blok dan memaksa negara lain untuk bersekutu dengan salah satu negara adikuasa berisiko mendorong dunia "ke ambang perang dunia ketiga."
Pernyataan Wong memperlihatkan kekhawatiran di wilayah tersebut atas risiko persaingan AS-China. Meskipun ketegangan meningkat, Wong menyarankan bahwa pemisahan total ekonomi AS dan China tidak mungkin terjadi karena saling ketergantungan yang mendalam.
Ia menambahkan bahwa sebagian besar barang yang diproduksi, dibuat, dan diimpor AS berasal dari China.
"Saya tidak melihat bagaimana pemisahan sepenuhnya dapat terjadi pada tahap ini," kata Wong.
Selain itu, ia juga menyoroti tantangan yang dihadapi negara-negara Asia Tenggara dalam menjaga hubungan netral dengan kedua negara tersebut. Ia memperingatkan bahwa negara-negara seperti Singapura tidak boleh dipaksa untuk "memilih pihak," membagi dunia menjadi "dua blok-blok AS dan blok China."
BACA JUGA:Ini Tahapan Daftar PLD Naungan Kemenes PDTT !
Ia juga mengatakan bahwa Singapura memiliki "kemitraan yang erat" dengan AS, dengan menyebutkan bidang-bidang kerja sama seperti pertahanan dan keamanan, serta keamanan siber, energi nuklir, hingga kolaborasi luar angkasa
Namun, risiko terjadinya hal ini tidaklah tinggi. Wong menambahkan bahwa negara-negara dapat menemukan cara untuk mengelola situasi dan mengurangi risiko konflik.
"Sementara AS dan China terus bersaing dengan giat, kita semua di dunia yang dapat membentuk dan memengaruhi berbagai peristiwa, mungkin tidak pada tingkat yang sama seperti AS-China, dapat melakukan bagian kita untuk meminimalkan risiko terjadinya pemisahan atau konflik langsung," jelasnya.
"Kemudian, mudah-mudahan, kita dapat mengelola persaingan antara kedua negara adikuasa, menjaga perdamaian di dunia, dan kita masih dapat memiliki lingkungan yang cukup baik bagi kita untuk terus berkembang dan maju," tambahnya.
Baik AS dan China berada dalam persaingan untuk mendapatkan pengaruh global, dengan Washington menekankan aliansi keamanan dan Beijing memanfaatkan dominasi ekonominya.
Trump telah mengancam kemungkinan tarif baru sebesar 10% untuk barang-barang China, sebuah langkah yang dapat memicu kembali perang dagang dan meningkatkan ketegangan antara kedua negara ekonomi terbesar di dunia tersebut.