Planet Paling Besar di Tata Surya: Ini Alasan Kenapa Jupiter Tidak Pantas Tampung Kehidupan Manusia

Planet paling besar di tata surya--FOTO/ILUSTRASI
Radarkoran.com-Manusia di bumi saat ini tengah berlomba-lomba mencari tempat baru yang lebih nyaman ketimbang bumi. Beberapa ilmuan bahkan menyebutkan bahwa, bumi memang bukan satu-satunya planet yang bisa dihuni oleh manusia.
Statmen ini sendiri bukan tanpa dasar, mengingat di Galaksi Bimasakti ini saja, ada 8 planet utama yang semuanya memiliki keunikannya masing-masing. Terlebih lagi di luar sana, ada ratusan juta planet yang mungkin saja, salah satunya bisa untuk ditempati.
Dari 8 planet yang ada di tata surya kita ini, jupiter merupakan planet yang berukuran paling besar. Namun meskipun besar, planet ini ternyata tidak pantas untuk menampung kehidupan manusia di dalamnya.
BACA JUGA:Ternyata Ada Lautan di Permukaan Planet Pluto: Rasanya Asin Mirip Seperti di Bumi!
Manusia tidak dapat hidup di jupiter karena kondisi lingkungannya yang ekstrem, suhu sangat dingin (-224°C), tidak memiliki permukaan padat untuk berdiri, tekanan atmosfer tinggi, serta jaraknya yang sangat jauh dari Matahari membuat tidak ada cahaya dan panas yang memadai untuk kehidupan. Selain itu, komposisinya yang sebagian besar adalah gas dan es, serta musimnya yang berlangsung selama puluhan tahun tanpa matahari membuat kehidupan manusia tidak mungkin.
Jupiter adalah raksasa gas yang tidak memiliki permukaan padat untuk berpijak. Atmosfernya langsung berubah menjadi mantel cair bertekanan tinggi di bawahnya, sehingga tidak ada tempat untuk manusia atau pesawat ruang angkasa untuk mendarat.
Sebagai raksasa es, jupiter tidak memiliki permukaan yang sebenarnya. Planet ini juga sebagian besar terdiri dari cairan yang berputar-putar. Selain itu, atmosfer jupiter juga sebagian besar adalah hidrogen serta helium, dengan sedikit metana serta jejak air dan amonia. Metana memberi warna biru yang khas pada jupiter.
BACA JUGA:Begini Bentuk Permukaan Planet Neptunus: Letaknya Paling Jauh Dari Matahari
Para ilmuwan meyakini bahwa bagian dalamnya terdiri dari inti batuan padat yang dilapisi lapisan cair padat yang terdiri dari air dan amonia. Bukan cuma itu saja, atmosfer yang menyelimuti bagian dalam planet ini sebagian besar terdiri dari hidrogen dan helium.
Sebagai planet yang sangat jauh dari Matahari, jupiter menerima sangat sedikit cahaya dan panas. Hal ini menyebabkan suhu sangat dingin dan membuat energi dari matahari tidak cukup untuk menyokong kehidupan. Karena kemiringan orbitnya yang ekstrem, sebagian besar permukaan jupiter tidak mendapatkan sinar matahari selama 84 tahun Bumi, menjadikannya zona yang gelap dan beku selama periode waktu yang sangat lama.
Jupiter terdiri dari hidrogen dan helium di atmosfernya, dengan mantel es yang terdiri dari air, amonia, dan metana. Lingkungan ini terlalu ekstrem untuk kehidupan seperti yang kita kenal.
BACA JUGA:Karena Ini Ilmuan Memprediksi Misi ke Planet Mars Terancam Gagal
Tekanan yang kuat di dalam atmosfer planet ini akan menghancurkan pesawat ruang angkasa dan manusia. Tekanan di jupiter sangat bervariasi karena merupakan planet gas tanpa permukaan padat yang jelas, tetapi tekanan atmosfer di lapisan terluarnya bisa mencapai 100 kali tekanan atmosfer Bumi, dan tekanan di bagian bawahnya sangat ekstrem karena merupakan raksasa es yang kaya akan gas dan cairan. Tekanan ini menjadi ekstrem di dekat inti, yang dapat menghancurkan pesawat ruang angkasa.
Lapisan ini membentang dari sekitar 50 km di bawah level 1 bar (tekanan atmosfer Bumi) hingga sekitar 300 km di bawahnya, dengan tekanan yang berkisar antara 100 hingga 0,1 bar. Di bawah atmosfer, tepat di bawah level 1 bar (sekitar 100 kPa), tekanan mencapai sekitar 100 bar (10 MPa)